Menikahi Dosen Tampan [Bunga di Taman Hati] By Sandra Setiawan | Libri

Menikahi Dosen Tampan [Bunga di Taman Hati]

Sandra SetiawanOngoing
  • 5Chapter
  • 10.7KPopularity
  • 18+Age
10
Read on mobile device
S
Sandra Setiawan
  • 2Works
  • 159.5KWords
  • 175Collections
  • 179.2KPopularity
Work Details Contents (5)
CEOFirst lovehubby to loverlove at first sightschool/campus

“Fabian…” Mami menatapku. “Yakin, Ian mau kalau dijodohin?” “Kalau semua ikhas, aku yakin, Mi.” Aku terus menatap mata ibuku. “Sayang, kamu sudah dijodohkan sejak sebelum kamu lahir.” Aku tersentak. Tergugu tanpa kata. Tanpa bisa kucegah, aku memasang wajah bodoh. “Cerita singkatnya, jodoh Ian ini cucu teman Opa.” “Gimana bisa?” Aku masih memasang wajah bodoh itu. “Waktu Opa dan temannya Long March Divisi Siliwangi, mereka berdua terpisah dari rombongan, lalu kena ranjau darat. Pas masa kritis kayak gitu, mereka sepakat mau ngejodohin anak-anaknya atau cucu-cucunya.” Mami membuka tasnya. Mengambil selembar amplop lalu menyodorkan amplop tersebut ke arahku. “Ini foto calonnya.” “Aku setuju, Mi.” Aku tetap menatap wajah Mami. “Ian nggak lihat dulu anaknya?” “Aku yakin sama pilihan Mami. Apalagi ini kesepakatan semua.” “Ian lihat dulu deh…” Meski merasa tak butuh melihat wajah yang tersembunyi di balik itu, tetap saja akhirnya kubuka amplop tersebut. Haahhh??? “Mami…??” Kupandang wajah Mami dengan wajah bodohku yang terbaik, yang terbodoh. “Nggak salah nih, Mi…?” “Kenapa? Ian berubah pikiran?” “Masih ABG beginiii...!!!” “Oh… itu foto dia masih kelas X.” “Sekarang?” “Balik foto itu,” perintah Mami tegas. Perlahan kubalik foto itu. Kembali aku terkesiap. “Mami…?” Kupasang wajah bodohku sekali lagi. “Ini beneran?” “Ya benar lah.” “Ini mahasiswa aku, Mi…. Sekarang tingkat satu. Tahun depan pasti masuk kelas aku.” “Sepertinya begitu,” jawab Mami maklum. “Ada masalah dengan itu?” Aku tergugu. Namun aku merasa harus bertanya. “Mi, dia mau sama aku? Dia mau dijodohin sama dosennya?” “Nah, pertanyaan bagus.” Mami menepuk bahuku. “Dia sama sekali tidak tahu soal perjodohan ini. Jadi sekarang bola di tangan Ian. Kamu mau bawa ke mana bolanya. Terserah.” Haaahhh??? ***

Comment Review